New Storyline

I wake up, late at night, again. At this rate, I think that it becomes a habit of mine. It wasn’t my intention to do so. But I unconsciously just wakes up around this time. Dan seperti hari-hari sebelumnya, kuhabiskan waktu dini hari ini dengan membaca novel dengan ditemani secangkir−dua cangkir teh manis hangat. Suasana sepi yang menenangkan.

Dari arah balkon apartement, terhampar keindahan kota dini hari yang dingin. Lampu-lampu bersinar disana-sini. Kota terasa sepi, tapi juga terlihat ramai di saat bersamaan. Di jalan hanya ada segelintir orang yang terlihat berlalu-lalang, ada diantara mereka yang terlihat baru selesai bekerja dan ada pula yang terlihat hendak bekerja. Jika merasa bosan, I just stand there, watching people passing by and feeling the emptyness wraped me up.

 * * *

Hari ini, tepat hari ke seratus setelah kejadian itu. Tiap detail kejadian masih saja tertancap diingatan. Meski tiap detik menit terus bergulir, rasanya kejadian itu baru saja berlangsung kemarin. Ya, kejadian itu. Kejadian dimana keadaan mengingatkanku akan kebodohan bernama cinta. Bagiku, Love is Myth. Cinta itu hanya dongeng. Dongeng yang selalu ada di setiap buku kehidupan, kecuali milikku. Dongeng yang pernah memberitahuku bahwa setiap insan berikatan cinta harus memiliki kepercayaan antar sesamanya.

Dalam buku kehidupanku, kepercayaan itu bagaikan sepotong kecil penghapus. Jika kau menggunakannya, maka penghapus itu akan habis tak tersisa. Sekali saja menghancurkan kepercayaanku, maka dia takkan pernah mendapatknya kembali. Dan karena hal ini pulalah, aku selalu memegang teguh kepercayaan yang diberikan orang-orang padaku. Sudah jelas, bahwa orang yang paling ku benci adalah, a betrayer.

Saat itu pukul sepuluh pagi, matahari masih bersinar lembut, angin berhembus pelan membisikkan kicauan burung. Udara dingin segar pegunungan segera menghilangkan kepenatan dan membangunkanku. Sedari tadi, ku terus memainkan cincin yang bertengger manis dijari manisku. Kuedarkan pandangan, meneliti keadaan resort yang telah disulap menjadi begitu indah. Hari ini adalah hari diselenggarakannya pesta selesainya proyek yang telah dikerjakan oleh Mateo, tunanganku. Ya, dialah pemberi cincin bermata satu ini.

Suasana taman yang semula sepi kian ramai dipadati oleh tamu-tamu undangan. Ya, tentu saja, tamu undangan. Namun, aku berdiri disana bukanlah sebagai tamu undangan. Bahkan Mateo berkata aku tidak perlu datang ke acara ini dengan memaksa secara halus. Mengapa aku tidak perlu datang? Atau lebih tepatnya, mengapa aku tidak diperbolehlkan datang? Bukankah aku adalah tunangannya? Apa itu salah? Apa Mateo malu untuk memperkenalkanku? Pertanyaan itu terus bergulir di kepalaku. Apa ada yang salah dengan pekerjaanku sebagai penulis? Semalu itukah dia?

Mateo tak pernah sekalipun menyertakanku dalam kesibukannya. Seingatku dia bahkan tak pernah mengenalkanku pada temannya. Semakin hari, kelakuannya semakin aneh, itu pikirku. Walaupun hampir setiap saat orang-orang terdekatku selalu berkata bahwa ada yang aneh dengan Mateo. Tapi aku tak pernah mendengar apa kata mereka.

Dan saat dentingan keras terdengar dari panggung kecil di tengah taman, pesta itu pun secara resmi dibuka. Penyambutan yang begitu panjang dan lama tidak menurunkan semangatku untuk memberi kejutan pada Mateo bahwa aku datang hari itu. Beberapa menit telah berlalu, akhirnya sang pembawa acara mempersilahkan Mateo sebagai Leader proyek ini untuk memberikan sambutannya.

Dia berdiri disana dengan gagah rupawan. Kulit yang telah berubah kecoklatan memperlihatkan seberapa sering dia turun ke lapangan proyek dan itu membuatnya tampak lebih tampan. Baju semi-formal yang ia kenakan mempertegas lekuk wajah dan badannya yang tinggi berotot. Suara rendahnya yang mengalun lembut telah membuatku tanpa sadar  terus tersenyum. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku. And I didn’t feel bothered by it, until I saw something. Entah sudah berapa lama dia terus memandang ke satu arah. Saat kulihat kemana dia memandang, tubuhku berubah kaku. Disana terlihat kerumunan lelaki dengan satu diantaranya adalah perempuan. Kucoba tenangkan diri, berpikir bahwa dia mungkin hanya sedang melihat teman-temannya itu.

Tak berselang lama, Mateo berkata dengan tiba-tiba

“Dan disini, aku ingin memperkenalkan pada kalian semua, orang yang telah begitu berjasa dalam membuat ide-ide cemerlang di proyek ini. Mari kita sambut, Melissa . . . “ ucapnya sambil menunjuk perempuan yang berada di kerumunan tadi.

Badanku semakin kaku, tubuhku tiba-tiba terasa dingin. Perempuan itu tertawa anggun dan dengan malu-malu berjalan perlahan menuju panggung, menuju Mateo.

“Dialah sumber dari segala sumber ide-ide ku, dan dia jugalah yang menyempurnakan ide itu. Mari berikan tepuk tangan yang meriah. . .” seru Mateo. Tiba-tiba dari arah kerumunan ada yang bertanya dengan jahil,

“Siapa dia Mateo? Kekasihmu kah? Hahaha”

Wajah Melissa yang putih perlahan berubah merah dan menyunggingkan senyuman yang semakin lebar, tak ubahnya dengan wajah Mateo. Akhirnya dengan sedikit canggung dan wajah yang telah merah padam, Mateo berkata,

“Ya, dia adalah kekasihku. Dan aku sangat berharap dalam kesempatan ini dia mau menjadi tunanganku. . .” ucapnya berseri-seri.

Ku terdiam membisu, wajahku telah berubah seputih kertas, badanku gemetar menahan emosi yang meledak-ledak dan perlahan badanku terasa semakin lemas.

* * *

Advertisements